Fiqih

Shalat jamaah bukan Shalat Sendiri “Kesalahan-kesalahan dalam shalat jamaah”

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 line

 Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Assholatu wassalamu ala nabiyna Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi ajmain.

Amma Ba’du.

shaf-sholat1Alhamdulillah, fenomena akhir-akhir ini menunjukkan semakin banyaknya orang yang menyadari pentingnya shalat berjamaah di mesjid sehingga mesjid pun sekarang lebih banyak terisi.

Namun demikian, kondisi ini tidak diikuti dengan kesadaran akan hukum-hukum dalam shalat berjamaah sehingga yang terjadi adalah sebagian orang memperlakukan shalat jamaah seperti shalat sendiri.

Memang di dalam shalat sendiri, sangat penting memperhatikan syarat shalat, rukun dan wajib shalat serta sunnah-sunnah shalat. Dan yang paling penting adalah niat ikhlas dan khusyu di dalam shalat. Sebagian orang menjaga hal-hal itu namun mereka hanya dan hanya memperhatikan hal-hal itu sehingga ketika melakukan shalat jamaah, mereka lakukan seakan sedang shalat sendiri.

Perlu kita ingat janji pahala shalat jamaah  25 atau 27 derajat lebih tinggi dari shalat sendiri memberikan konsekuensi yang lebih besar yang harus dipenuhi lebih dari shalat sendiri. Karena itu mari kita ulas secara singkat kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan di dalam shalat jamaah semoga kita bisa menyempurnakan shalat jamaah dan mendapatkan 25 atau 27 derajat lebih tinggi.

Di antara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:

Tidak menjaga kelurusan shalat

Sebagian orang masuk ke shaff tanpa memperhatikan posisinya di dalam shaff. Kadang mereka agak ke depan dari yang lain, kadang agak belakang. Kadang shaff itu hanya lurus di tengah lalu perlahan-lahan melengkung di sisi kiri dan kanannya seperti busur panah. Kadang shaff itu lurus sebagian, lalu karena ada orang telat datang lalu berdiri agak belakang maka orang berikutnya mengikutinya sehingga satu shaff itu seperti dua shaff yang lurus yang satu lebih maju beberapa cm (sentimeter) dari yang lain.

1

Padahal banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan bagaimana Rasulullah Sallallahu alahi wasallam selalu memperhatikan lurusnya shaff sehingga sahabat mengatakan seakan-akan seperti sedang meluruskan anak panah. Bahkan Rasulullah Sallallahu alahi wasallam pun mengancam orang-orang yang tidak meluruskan shaff dengan ancaman yang keras yaitu Allah menimbulkan perselisihan di antara mereka. Di antara haditsnya adalah:

Dari An-Nu’man bin Basyir radiallahu anhu, beliau berkata:

Bahwa Rasulullah Sallallahu alahi wasallam meluruskan shaff-shaff kami, hingga seolah-olah beliau meluruskan anak panah sampai beliau mengetahui kami memahami akan meluruskan shaff. Kemudian beliau keluar pada suatu hari beliau berdiri dan hampir bertakbir maka beliau melihat seorang yang memajukan dadanya dari shaff kemudian beliau bersabda: “Wahai hamba-hamba Allah benar-benar kalian meluruskan shaff atau (jika tidak) Allah akan menjadikan perselisihan di antara wajah-wajah kalian. (Al Bukhari wa Muslim).

Renggang, tidak menutup celah antara satu orang dengan orang lain

Kadang sebagian orang berdiri di dalam shalat jamaah dengan tenang dan khusyu namun ada jarak antara dirinya dengan orang yang lain. Akhirnya shaff jadi renggang di areanya seperti sebuah garis yang terputus-putus.

 2

 Rasulullah Sallallahu alahi wasallam sudah memperingatkan hal ini bahwa seharusnya setiap orang merapatkan barisannya dengan orang lain sehingga tidak ada celah antara mereka yang bisa dimanfaatkan oleh syaithan untuk menyusup dan mengganggu shalat mereka.

Di antara hadits Rasulullah Sallallahu alahi wasallam:

Dari Abdullah bin Umar radiallahu anhu,

“Tegakkanlah (luruskan) shaff, sejajarkan antara bahu dengan bahu, tutuplah celah, bersifat lembutlah dengan tangan-tangan saudara kalian jangan biarkan celah untuk setan, barang siapa menyambung shaff maka Allah akan menyambungnya (memberikan rahmatNya) dan barang siapa yang memutuskan shaff maka Allah akan memutusnya (memutus dari rahmatNya)”. (Abu Dawud dari Shahih Sunan Abu Dawud)

Dan berdasarkan Hadits Anas radiallahu anhu di dalamnya Rasul bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya sesungguhnya aku melihat setan masuk di sela-sela shaff bagaikan kambing kecil berwarna hitam.” (Abu Dawud dari Shahih Sunan Abu Dawud)

Dan apa yang dilakukan oleh para sahabat radiallahu anhum?

An-Nu’man bin Basyir kembali berkata: “Maka aku melihat seseorang menempelkan pundaknya dengan pundak saudaranya, lututnya dengan lutut saudaranya dan tumitnya dengan tumit saudaranya (Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam kita Shahih Abu Dawud).

Mendahului atau menyamai imam dalam gerakan shalat

Walaupun fenomena ini jarang terjadi, tapi kadang ada juga orang yang melakukannya. Baru saja imam selesai baca surah, mereka sudah ambil ancang-ancang untuk ruku’. Ketika imam sudah hendak ruku’, mereka mendahuluinya atau paling sedikit menyamai gerakan imam.

Kesalahan ini sudah diingatkan Rasulullah Sallallahu alahi wasallam dalam sabdanya:

“Tidaklah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam untuk dia diubah kepalanya menjadi kepala keledai.” Dalam lafazh Al Bukhari: “Allah akan menjadikan kepalanya menjadi kepala keledai, atau Allah menjadikan bentuknya menjadi bentuk keledai.” (Al Bukhari wa Muslim).

Dari hadits Anas bin Malik radiallahu anhu, Rasulullah Sallallahu alahi wasallam bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka jangan kalian mendahuluiku dengan ruku’, sujud, berdiri dan tidak pula dalam meninggalkan shalat (salam) sesungguhnya aku melihat kalian di depan dan di belakangku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya andaikata kalian melihat apa yang aku lihat niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Mereka mengatakan, “Apa engkau lihat wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Surga dan neraka.” (Muslim)

Berkata Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah: “Yang benar bahwa mendahului imam dengan sengaja, apabila orang yang mendahului itu mengetahui keadaan dan hukum, maka shalatnya batal sekedar dengan sebab itu.”

Pendapat yang sama juga diungkapkan beberapa ulama salaf seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan lain-lain.

Terlambat dari imam satu dua rukun tanpa udzur

Ada juga orang yang saking khusyunya memperhatikan shalat dan bacaannya sehingga dia sering tertinggal oleh imam satu atau dua rukun shalat.

Misalnya ketika imam sudah ruku’, dia masih khusyu membaca surahnya sehingga ketika imam sudah bangkit dan i’tidal barulah dia buru-buru ruku’. Atau kadang juga imam sudah i’tidal dan siap untuk turun sujud, dia masih tenang dalam ruku’nya membaca bacaan ruku’ sehingga dia pun tertinggal satu rukun dari imam atau bahkan dua rukun.

Ulama fikih memfatwakan, siapa yang ketinggalan satu dua rukun dari imam tanpa udzur maka shalatnya batal dan dia wajib mengulangnya. Ancaman ini seharusnya membuat takut orang-orang bertakwa.

Shalat di antara dua tiang sehingga shaff diputuskan oleh dua tiang tersebut

Ketika shaff di depan sudah penuh dan harus buat shaff baru di belakang, sebagian orang membuat shaff barunya di antara tiang sehingga ketika orang-orang sudah penuh berdiri di antara tiang tersebut, maka yang lain membuat shaff baru di sisi kiri dan kanan tiang, akhirnya terjadi tiga garis yang berbeda pada satu shaff.

3

Perbuatan ini dibenci oleh parari Abdul Hamid bin Mahmud beliau berkata: “Kami bersama Anas bin Malik maka kami shalat bersama pemimpin dari para pemimpin. Kemudian mereka mendorong kami sehingga kami berdiri dan shalat di antara dua tiang, maka Anas mundur. Dan mengatakan: “sungguh kami

pada zaman Nabi Sallallahu alaihi wasallam menjauhi dari perkara ini (yaitu shalat di antara tiang-tiang).”(Shahih Sunan An-Nasa’i).

 

Dan masih ada beberapa kesalahan lagi namun kami cukupkan sampai di sini agar risalah ini singkat dan bisa memberikan faedah bagi kita semua. Semoga Allah memudahkan kita mengikuti hukum-hukum yang benar dalam shalat jamaah dan menyatukan hati kita di dalamnya.

Wabillahi at taufiq wal hidayah.

Sorowako, 1 Jumadil Ula 1434H, 13 Maret 2013,

Disadur dari buku: Fiqih Shalat Berjamaah, karya Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani

Ditambah dengan kitab: Qaulul Mubiin fi Akhta’ fil Mushallin, karya As Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori

Daftar Isi

Blog Stats

  • 7,916 Pengunjung

Jumlah Pengunjung

Map

Pesan dari Kami

Untuk Semakin Menyebarkan Dakwah Islam Ahlussunnah Waljama'ah, Maka "DIPERBOLEHKAN" meng-Copy artikel yang ada di dalam Blog ini. Dengan SYARAT : Tidak Untuk Komersial tanpa Menambah atau Mengurangi isi artikel serta tetap mencantumkan URL Sumber
%d bloggers like this: