Manhaj

Pemuda Salafi Itu….

 

بسم الله الرحمن الرحيم

line

hujanPemuda salafi itu jelas lurus akidah dan memahami tauhid dengan baik, melaksanakan setiap yang ia mampu dari ilmu yang diketahuinya dengan dasar yang jelas bersumber dari Kitabullooh, sunnah shohihah dan penjelasan para ‘ulama salafush sholih. Pemuda salafi itu seseorang yang indah untuk dipandang, meski wajahnya tidak tampan, namun senyuman selalu menghiasinya, meski pakaiannya tidak mahal, namun bersih dan bersahaja. Di balik jenggotnya tersimpan kebaikan sunnah, di balik cingkrang-nya sirwal-nya tersimpan ketaqwaan dan ‘ittiba. Sungguh sangat merugi mereka yang menjauh darinya.

Pemuda salafi itu orang terdepan dalam birrul walidain, menghargai jasa-jasa orang tuanya meski mereka masih awwam, sang pemuda salafi senantiasa memuliakan orang tuanya, tidak pernah berkata-kata kasar, apalagi membentak, selalu santun dalam bercengkrama dengan orang tuanya meski dibenci karena tegar di atas sunnah. Baginya sikap keras orang tuanya adalah ujian bagi iman-nya, dan rasa kasih sayang orang tuanya kepadanya, dia berprasangka baik kepada bapak dan ibunya, yang telah menjadi perantara lahirnya dia di dunia ini, menjaganya dengan susah payah saat ia masih bayi, bersabar akan kenakalannya saat ia masih anak-anak, dan membiayai kehidupannya hingga dia mampu untuk hidup mandiri, sungguh kebencian orang tuanya adalah kasih sayang baginya, teguran bahwa dia masih kurang berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Kata-kata kasar dan cibiran saudaranya senantiasa dibalasnya dengan senyuman dan hadiah. Jika dia mengingat jasa orang tuanya, sungguh teramat kecil perbuatan baiknya kepada orang tuanya dibanding jasa orang tuanya kepadanya. Air mata berlinang dalam doa selepas sholat malamnya demi kebaikan orang tuanya dan saudara-saudarinya.

Pemuda salafi itu selalu bersemangat dalam mencari nafkah, tidak gengsi dan banyak tingkah, menyukai kebaikan dan membenci ikhtilath yang bisa merusak hatinya. Meski pekerjaannya adalah pekerjaan biasa, dia senantiasa bersyukur kepada Robb-nya, betapa rizki yang dia dapatkan sanggup untuk menegakkan punggungnya, berbakti kepada orang tuanya dan sebagian untuk sedekah. Dia selalu menjaga amanah, selalu berprasangka baik dalam kehidupannya, dan menjaga dirinya dari hal yang harom serta tercela.

Pemuda salafi itu santun dalam berkata, senantiasa menyebarkan nasihat dalam kebaikan, senantiasa mengajak untuk bersabar dalam melaksanakan kebaikan, meski kadang orang mencela dan berkata bahwa dia kurang “hikmah”, dia berlindung kepada Allooh dari perkataan tercela dan kesombongan, dia senantiasa menjaga dirinya dari pergaulan yang buruk, senantiasa menjaga perdebatan dalam majelis, berdiam jika memang tak mampu berkata, dan berkata jika memang itu suatu kebaikan. Pemuda salafi itu hanya takut kepada Allooh, tegar dalam menyampaikan kebaikan dan dakwahnya. Pemuda salafi itu tidak berkata kecuali apa-apa yang diketahuinya, dan dia senantiasa berada dalam majelis orang-orang sholih untuk mengambil ilmu dari ahlinya. Akhlaknya mulia, pergaulannya menyenangkan, memukau setiap mata yang memandang.

Pemuda salafi itu tidak menyukai wanita yang hobby mengumbar aurotnya, baginya kecantikan hanyalah perisai setebal kulit, perhiasan yang melenakan jika tak mampu menjaganya, sedang di balik kulit itu hanya ada tumpukan darah, tulang dan daging. Dan dalam tumpukan itu terdapat segumpal darah yang menentukan kebaikan penampilan luarnya. Sungguh yang diimpikannya adalah wanita yang sederhana dan baik dalam pergaulannya, senantiasa menjaga kehormatannya dengan hijabnya, lisannya terpenjara dalam dua bibir yang indah, tidak berkata kecuali kebaikan dan enggan untuk keluar dari rumahnya kecuali untuk hal yang darurot dan menuntut ‘ilmu agama. Pemuda salafi itu merindukan teman untuk mengarungi hidup yang bisa membantunya dalam ketaqwaan, bukan “beban” yang akan menjadikan fitnah baginya dalam kehidupan. Duhai bahagianya wanita sederhana berhijab yang dipilihnya itu, duhai betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan pilihannya dalam mengkhitbah…

Pemuda salafi itu, memiliki cinta yang sesuai takarannya kepada manusia, tidak mencintai melebihi dari apa yang harus dicintainya, dengan kebaikan ‘ilmu agama yang diketahuinya, dia melangkah menebarkan kebaikan dan keindahan, pemuda salafi itu selalu tegar dalam ujian dan cobaan yang dihadapinya, selalu berbaik sangka kepada Robb-nya, bahwa tidaklah dia akan benar-benar dikatakan beriman, kecuali telah melalui setiap ujian yang diberikan kepadanya dengan baik. Bersama dengannya engkau selalu betah, berpisah dengannya sengkau akan selalu merindukannya…

Pemuda salafi itu… apakah engkau yang membaca catatan ini wahai saudaraku??? Aku berharap demikian, salam untukmu, dan jadikanlah aku temanmu, do’akanlah kebaikan untuk diriku, sungguh aku banyak belajar darimu…

Walloohu a’lam

Oleh Andi Abu Hudzaifah Najwa

Sumber: http://bengkelinux.wordpress.com/2013/03/22/pemuda-salafi-itu/

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori

Daftar Isi

Blog Stats

  • 7,916 Pengunjung

Jumlah Pengunjung

Map

Pesan dari Kami

Untuk Semakin Menyebarkan Dakwah Islam Ahlussunnah Waljama'ah, Maka "DIPERBOLEHKAN" meng-Copy artikel yang ada di dalam Blog ini. Dengan SYARAT : Tidak Untuk Komersial tanpa Menambah atau Mengurangi isi artikel serta tetap mencantumkan URL Sumber
%d bloggers like this: